Desainer Sugih

Perginya Sahabat Kecilku

 Sudah hampir sebulan setelah saya menerima berita soal meninggalnya seorang sahabat yang pernah lama juga bersama di romatika masa-masa kecil, sekolah dan masa-masa menjadi anak baru gede (ABG). Namanya Dawis Lana Hidayat, ia lebih tua setahun dariku. Namun kadang kayak tidak berjarak. Kita sekolah bareng saat SD & SMP juga bertetangga saat tinggal di Sunter, Jakarta Utara. 

Dawis ayahnya adalah pensiunan ABRI (Nama lain TNI pada masa itu) dan ibunya mengurus rumah tangga sambil berjualan nasi uduk di pagi hari didepan rumahnya. Dawis memiliki 5 saudara yakni  Ce' May, Bang Mul, Ce'Lina, Dawis & Juhana. Dia merupakan anak ke 4. Dengar-dengar info dari adiknya (Juhana), Dawis sebenarnya ada 6 bersaudara, tepat diatas Dawis meninggal saat masih kecil. 

Dawis dikenal sangat periang, humoris, pintar merespon segala hal yang baru. Contohnya, ketika itu jaman SMP sedang musim berjoget ala Michael Jackson, Dawis dengan mudah meniru dan mampu meragakannya. Seperti moon walknya Michael Jackson Dawis bisa melakukan itu. 

Dawis itu pandai dan mahir membuat sketsa gambar. Saat SD jika belajar bersama di rumah Udin (red. tetangga depan rumah agak nyerong kiri dikit), dia membuatkan dan mengajarkan kami bagaimana mengambar jagoan-jagoan serial televisi pada masa itu. Seperti He-man, Google V, Gaban, Megaloman, Zabogar, Ksatria Baja Hitam dll. 

Saat beranjak SMP Dawis juga yang mengenalkanku bermain Gitar. Dia mengajarkan kunci-kunci "About a girl" nya Nirvana dan lagu syahdu "Nak" milik Iwan Fals. 

Sekedar info Dawis adalah orang pertama didaerah kami yang main bola dibayar untuk tarkam, istilahnya pemain cabutan. Dawis dicabut oleh orang Galindra waktu itu. Padahal di daerahnya sendiri, dia tidak pernah main bola saat ada kompetisi tarkam. 

Setelah masa-masa SD dan SMP, Dawis memilih SMEA di Sumur Batu. Waktu itu aku kurang tahu kenapa dia milih SMEA. Kupikir mungkin dia memang agak telitilah. Sedang aku kala itu di sekolah Umum SMU 5 Jakarta Pusat. Tapi walau beda sekolah, kita masih tetangga jadi sering nongkrong bareng juga.


Dawis mengenakan baret berwarna magenta (Sumber Photo : Galeri di HP Safembrik)

Mulai lulus dari sekolah masing-masing kita berdua masih nganggur. Aku membantu ibu jualan di pasar kaget, kadang ikut mengambil barang jualan kawan papa untuk kujual lagi. Sedang Dawis kala itu banyak melamar kerja, tapi belum ada yang cocok.

Sampai akhirnya bosan, kita berenam waktu itu Dawis, aku, Alm Gunawan, Anto, Erik, Dede membuat band rock untuk sekedar mengisi masa-masa nganggur. Nama Bandnya Ballak 6, ketika itu kami memainkan lagu-lagu Metallica seperti For whom the bells toll, Fade to black, Master of puppet dan lagu-lagu GNR juga Boomerang. Lumayanlah buat hiburan, Dawis waktu itu memainkan drum. Permainanannya mengalahkan Iyek (senior band di sunter). Sudah Bak Lars Ulrich kalau Dawis main drum.

Setelah beberapa lama personil band ballak 6 ini mulai sibuk dengan kegiatan lain. Pada masa itu ada pembukaan penerimaan Kamra (Keamanan Rakyat) Dawis mengikuti seleksi dan diterima menjadi Kamra. Jadilah Dawis berseragam Kamra & sibuk dengan kerjaannya. dan banyak juga teman-teman lain didaerah kami yang juga menjadi Kamra. Sedang aku mencoba peruntungan dengan memakan bangku kuliah di Lenteng Agung di IISIP Jakarta (tapi ga kelar bro). 

Mulailah intensitas kita berdua menurun, sudah jarang bertemu. Tapi kalau sekali bertemu obrolan kita sudah mulai berbobot apalagi ketika itu ada teman baru kami yang agak dewasa, kebetulan dia lebih tua dari kami 5 tahun. Dia berpengalaman soal kerasnya hidup. Namanya mas Didik Ari Prihtiardi. Kadang kita suka mendengarkan nasehat-nasehatnya. Dan sampai sekarang aku dan Mas Didik kerap vc whatsapp untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul. 

Setelah itu Dawis berhenti bekerja d Kamra karena memang program itu selesai. Singkat cerita Dawis menikah dengan Dian. Gadis yang ia temui di tempat kerjanya yang baru di Kemayoran Golf. Kami teman-temannya juga sempat mengantarkan nya ke rumah istrinya. 

Setelah ini kita sudah terpisahkan secara fisik, aku di Cirebon & Dawis katanya di Karawang. Tepatnya di Teluk Jambe, menurut Juhana -adik kandung Dawis-sebelum di Teluk Jambe, Dawis sempat tinggal di Sunter lagi dengan mengontrak rumah. Tapi itu tidak berlangsung lama karena ia diterima bekerja di Teluk jambe, Karawang sebagai sebagai Sekuriti di Perum Peruri.  

Lagi menurut Juhana, Alm Dawis sebenarnya menderita sakit atau mulai melemah setelah ibunya meninggal dunia.

"Sering bolak-balik rumah sakit, Ra! Tapi sebentar aja abis itu sehat lagi".

Itu sangat sering terjadi kata Juhana. Hanya saja 3 Bulan belakangan kondisinya sudah agak tidak bagus. Terlebih saat mulai-mulai muntah darah, sampai akhirnya dokter menvonis Dawis menderita sakit Lambung kronis. 

Dan puncaknya pada malam 12 desember 2022, menurut Juhana, Ia menerima telepon dari istri Alm bahwa Kakaknya kritis dan menghembuskan nafas terakhirnya pada malam itu. 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un telah berpulang kawan kami sahabat kami ke ilahirobbi. 

 Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu   

 (Tulisan ini belum semua cerita yang tersampaikan, masih banyak sebenarnya cerita-cerita kami bersama Almarhum Dawis Lana Hidayat, Semoga beliau diterima disisiNya, diampuni segala kesalahannya, diterima amal ibadahnya. Diberikan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan) 

0 Komentar untuk "Perginya Sahabat Kecilku"
Back To Top