Tuesday, 2 May 2017

Menikmati Keperawanan Payakumbuh

Awal bulan puasa sebentar lagi akan bertalu-talu, semua menyambut dengan gembira..bahkan sebagian umat lain juga menyambutnya. Setelah itu akan ada hari kemenangan, hari dimana kaum muslimin memenangkan pertandingan selama kurang lebih satu bulan. Menahan lapar, menjaga gawang dari kebobolan dahaga, amarah, mengatur hati untuk kehidupan rohani yang lebih baik.


Momen kemenangan ini menjadi ajang bersilahturahmi ke sanak sodara, handai taulan. Nah kebanyakan dari kita pulang ke kampung bertemu orang tua, teman sepermainan kala masih kecil atau kadang ada yang stalking-stalking mantan...hehehe..

Lumayan juga pembukaan dengan judul Menikmati Keperawanan Payakumbuh, Ya Payakumbuh, Payakumbuh adalah tempat asli saya dilahirkan. Sekitar 30 tahun yang lalu saya dilahirkan di kota ini. Sampai saat setelah sekian lama. Saya akhirnya pulang ke Payakumbuh dan saya bisa mengatakan kota payakumbuh masih "seret" "keset" dengan kata lain perawannya masih terasa.



Hari Pertama tiba di kota ini sampai dirumah orang tua di daerah Kel. Padang Tinggi Koto nan IV Payakumbuh Barat. Sama memang dengan daerah kebanyakan di Payakumbuh, disini mayoritas penduduk mengelola hasil bumi, ada juga yang merantau ke negeri lain namun melihat perkembangan ekonomi di kota ini sepertinya banyak masyarakat di kel Padang Tinggi lebih memilih mengelola hasil bumi dan dikirim ke kota Padang atau ke Pekan Baru, Juga sekarang kota ini menjadi pusat kuliner di malam hari sehingga ada sebagian masyarakat yang berjualan masakan di pusat kota Payakumbuh. Berbeda jauh saat 1 dekade silam ketika saya pulang. Bisa dikatakan masyarakat di Padang Tinggi ini tingkat ekonomi sudah meningkat. Bahkan saat berkumpul dengan keluarga besar saya merasa minder karena mereka terlihat lebih mapan dibanding saya yang merantau ke Pulau Jawa. 

Saat sore menjelang saya menyempatkan membersihkan kandang ternak sapi, lokasinya tak jauh dari rumah. rasanya luar biasa perawan, kotorannya muantaap bro, kalo ga percaya nih penampakannya 

membersihkan kotoran sapi


Ini pengalaman luar biasa, luar biasa....aromanya

Tak cukup disitu saja, saya juga memberi makan sapi setelah kandang dibersihkan, mencabut rumput, kebetulan ini rumput yang besar-besar dan tinggi, rumput gajah kali namanya. 

mengangkut rumput 

Kelihatan saya sedang mengangkut rumput gajah untuk makanan sapi. Sapi sapi yang saya kasih makan ini adalah milik orang tua, sapinya ada dua berjenis limosin. kereen kan kayak merek mobil diluar negeri.


Sapi jenis ini konon katanya kalo ga salah denger berasal dari Perancis eh bukan berasal ding maksudnya dikembangkan pertama kali di Perancis, ciri-cirinya mempunyai ukuran tubuh yang besar dan panjang, dengan bulu yang berwarna coklat tua, warna sekeliling mata dan bagian lutut ke bawah berwarna sedikit terang, serta pada sapi limosin jantan memiliki tanduk yang tumbuh ke luar yang sedikit melengkung.


Nah demikian sekelumit soal sapi ini, Keesokannya saya coba merangkai perjalanan saat berada di kota ini, tapi karena kebanyakan rangkaian saya akhirnya ya dirumah saja hehehe... Bangun agak siang saya coba pergi ke kebun dimana dulu adalah tempat nenek bercocok tanam, banyak sejarah yang terjadi dikebun kami menyebutnya Tanjuang Rondah. Lokasinya tak jauh dari rumah sekitar 3 kiloan yaah deketlah..

Tanjuang Rondah, Subarang Betung, Payakumbuh

Sengaja poto ini berlatar rumah yang sudah tua, iya rumah ini adalah peninggalan nenek, Rumah ini kadang menjadi tempat tinggal nenek untuk esoknya bersawah atau bercocok tanam di ladang.

di take panorama mode



Selepas bernostalgia di Tanjuang Rondah saya kembali kerumah, dan dirumah bertemu kakak saya mengajak untuk datang kerumahnya, Lokasi rumah kakak di Taram Kab 50 Kota, tepatnya di kota Taram, ini penampakannya



Dibawah bukit bulek Taram kakak saya tinggal, dari photonya sudah keliatan ini sangat asik kan, bayangkan udara segar selalu ada disini, hanya saja saat berada disana sedang musim panas jadi kolam tampak kering. Tapi itu tidak mengurangi gregetnya karena keperawanan masih terjaga.

pasca wed photo
Perjalanan di kota taram tidak hanya sampai disitu, pesonanya tak hanya melulu soal bukit-bukit yang bercadas. kota ini menyimpan objek wisata lain, selanjut kakak mengajak kami ke palo bonda yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari kediaman kakak. Karena musim kemarau, kakak mengajak saya untuk survei lokasi dulu dengan sepeda motornya. Bremmmm...breeem....breem.....sampailah saya dilokasi palo bonda, taram.

Sayangnya saya ga bawa hape ketika sampai di palo bonda ini, kondisi ketika itu agak kering, tapi tenang saya cari photo terbaru dari grup whatsapp keluarga, so check it out bro...

(Bersambung)

0 comments: